Rabu, 08 Juli 2015

Suatu Malam di Pasar Malam dan Rasa Tak Bersyukurku

Hai guys, ketemu lagi di cerita runa. Udah lama ya aku gak nulis di blog, blognya udah sampe sampe sawangen gini. Sebenarnya ide nulis itu banyak, udah aku pikirin pas lagi mandi, mau tidur dan abis shalat selalu muncul inspirasi untuk menulis tapi untuk menuangkannya dalam tulisan tu ya allah malese pooolll ig. Tapi kali ini, aku bakal menulis sesuatu, buat yang udah kangen cerita runa silahkan dinikmati tapi buat yang gak kangen dan biasa aja ya monggo mau baca apa engga ya soalnya aku gak maksa, kalo maksa ntar bolone setan og. Oke here we go..

Jadi ceritanya tadi malem sebelum tidur aku mikirin bapak yang lagi di kampung halaman, kebetulan aku lagi di perantauan. Aku mencoba mengingat ingat masa kecilku yang sangat bahagia, selalu disayang dan dimanja-manja karena aku adalah anak pertama. Hingga akhirnya lahirlah adek-adekku, adekku ada dua biji. Aku ingat, di suatu malam saat itu aku masih kelas 4 atau 5 SD dan adek-adekku masih teramat kecil dan gampang dibohongi. Malam itu, Bapak mengajakku dan kedua adekku ke pasar malam, mungkin waktu itu bapak ingin menyenangkan anak-anaknya dengan mengajak ke pasar malam lalu kita berangkat berempat dengan menggunakan 1 motor, iya 1 motor untuk 4 orang kebetulan kami emang gapunya mobil dan waktu itu aku sempet mengeluh,

“gausah lah bapak, repot. Kita kan gak punya mobil masa’ berempat naik 1 motor?”

Dan bapak pun menimpali dengan suatu kalimat “ya gapapa, malahan enak toh naik motor berempat, rame-rame, asyik lho kena angin”

Waktu itu aku hanya menggerutu, mbatin dan merasa bersalah karena udah ngomong gitu sama bapak, seandainya aku punya mesin waktu dan bisa kembali lagi ke masa itu, mungkin aku sudah menampar diriku sendiri yang sudah menyakiti hati bapak dengan ucapan tersebut,

“plak!” aku pun menampar diriku sendiri di setiap malam aku mengingat kalimat-kalimat tak pantas yang pernah aku ucapkan ke bapak. Waktu itu aku masih kecil, dan masih terpengaruh sama lingkungan yang ada salah satu temen yang kaya raya, punya mobil dll dan aku pernah merengek

“bapak, kapan kita punya mobil?”

Dan bapak selalu tersenyum serta melontarkan kata halus yang menenangkanku,

“sabar ya nok, besok kamu sekolah yang pinter, kerja di tempat bagus, nabung dan beli mobil sendiri ya”

Aku pun mengangguk dan terselip kekecewaan, namanya juga anak-anak. Kembali lagi ke pasar malam, di pasar malam aku merasa sangat bete, entah kenapa aku bete mungkin karena gak seru dan kita pun cuma beli arum manis sambil melihat-lihat. Setelah itu bapak mengajak kami makan bakso, karena kami emang suka sama bakso.

“pak, baksonya 3 ya” kata bapak ke penjual bakso sambil tersenyum.

“loh, pak. Kok Cuma 3? Kan kita berempat?” tanyaku kepada bapak.

“bapak gausah nok, udah kenyang” kata bapak.

Akhirnya bakso kami pun datang, dan benar saja hanya 3 mangkok yang datang. Kami bertiga makan dengan lahapnya, sesekali aku menengok kearah bapak yang sedang melihat motor dan mobil yang melintas di jalan raya. Aku pun menawarkan kepada bapak,

“bapak, ayo bancakan aja sama aku baksonya (bancakan : barengan)” kataku sambil menepuk pundak bapak.

“gausah nok, buat kamu aja, bapak udah kenyang” kata bapak sambil tersenyum.

Lalu aku melanjutkan melahap baksoku, adek-adekku juga terlihat sangat lahap menyantap bakso mereka, lalu aku mendengar suara perut yang lumayan keras waktu itu dan ternyata itu suara perut bapak yang sedang duduk di sampingku. Aku langsung tertegun, dada terasa sesak dan berusaha menahan agar tidak menangis, aku tahan dulu beberapa detik sambil menghela nafas dan berkata,

“bapak, aku udah kenyang ini baksonya tinggal 2, sama mie kuningnya aku gak begitu suka, bapak mau gak?”

Aku berbohong, aku masih lapar tapi aku tetap menggeserkan mangkok baksoku ke arah bapak. Adek-adek yang melihatku menggeser mangkok itu pun ikut-ikutan, mereka menggeser mangkok mereka yang masih tersisa 1 butir bakso dan bakso itu dipindahkan ke mangkokku tadi yang sudah berada di hadapan bapak. Akhirnya bapak pun makan bakso pemberian dari kami dengan lahap, aku memalingkan muka dan membiarkan air mata menetes sebentar. Setelah itu aku berusaha mengubah raut mukaku dan mengajak adek-adekku bercanda untuk mencairkan suasana.

Sepulangnya dari pasar malam, aku langsung masuk kamar dan mengunci pintu dan menangis sejadi-jadinya, aku gak tega, aku merasa bersalah, aku merasa jahat, aku merasa udah jadi anak durhaka. Sadar atau tidak, aku sering menyakiti hati bapak dengan kalimatku yang menyesakkan terutama masalah ekonomi. Kami emang bukan orang kaya, bapak dan ibu selalu bersyukur dengan keadaan yang ada, kadang mereka tak begitu peduli dengan dirinya sendiri tapi selalu mengedepankan kepentingan anak-anaknya. Aku merasa sangat kurang ajar jika mengingat sikapku waktu itu yang selalu mengeluh soal keadaan ekonomi, dan seiiring berjalannya waktu aku pun mengerti bahwa hal itu sangatlah menyakitkan bagi  orang tua, tapi orang tua selalu berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit itu.

Astaghfirullah, sudah berapa banyak aku mengeluh karena keadaan keluarga? Sudah berapa banyak aku menyakiti hati orang tuaku dengan kalimat-kalimat itu? Aku selalu menangis jika mengingat itu semua, padahal orang tua selalu ikhlas untuk merawat kita secara GRATIS. Mulai SMP, aku mulai prihatin dengan keadaan ekonomi keluarga, tidak menuntut apa-apa pada orang tua, yang penting bisa bayar SPP sebelum tanggal 10 setiap bulannya, aku tau semua itu berat untuk orang tua yang sedang berjuang membiayai keperluan anak-anaknya.

Terkadang kita kurang bersyukur kepada Allah, selalu mengomentari apa yang kita tidak punya. Ekonomi memang sangat penting bagi kehidupan, tapi jika kita tak pandai mensyukuri rejeki yang diberikan oleh Allah bisa saja rejeki kita terasa sedikit terus. Ibu selalu berkata,

“besar kecilnya rejeki yang diberi Allah, jangan lupa disyukuri dan jangan lupa sedekah”

Kalimat itu masih aku pegang teguh hingga sekarang, saat kuliah aku mulai mencari informasi kerja freelance untuk menambah tabunganku untuk membeli laptop baru dan Alhamdulillah waktu itu aku ditawari kerja untuk mengurus website salah satu online shop dan alhamdulillahnya aku dapet beasiswa waktu itu. Alhamdulillah sekarang aku udah bekerja, dan ini saatnya aku terlepas dari orang tua dalam hal financial, mulai menabung untuk masa depan, untuk biaya kuliah adekku, dan kalo bisa mengumpulkan uang untuk memberangkatkan haji kedua orang tuaku, semoga aku bisa membalas semua budi baik mereka, Ya Allah.

my family
Aku tahu, sebanyak apapun uang di dunia ini tak akan pernah cukup untuk membalas budi baik mereka yang telah merawatku dengan ikhlas, tapi aku selalu berusaha untuk menyenangkan hati mereka, dan selalu mendoakan agar mereka selalu berada dalam lindungan Allah. Amin ya rabbal alamin..

Bapak, ibu.. maafkan aku yang pernah menyakiti hati kalian dengan rasa tidak bersyukurku itu. Izinkan aku membalas semua budi baikmu, jangan pergi dulu pak, bu. Aku ingin melihat kalian bahagia terlebih dahulu, aku sayang kalian.

8 Comments
Komentar

8 comments:

Arul Ivansyah mengatakan...

Aku juga ikut sedih bacanya, emang orang tua itu the best, selalu ngelakuin hal terbaik buat anaknya. Intinya yang penting anaknya BAHAGIA. :')
MANGAT kuliah non biar bisa beli mobil sendiri ya hehe

Fahrunnisa Laila mengatakan...

iyaa semua dilakukan ortu demi kebahagiaan anaknya :")
btw udah kerja kok hehe :D

Aiman Imtihanah mengatakan...

Yah,kalo berbicara tentang orang tua emang terkadang menyedihkan...
Suka mikir lagi, udah ngasih apa sih ke mereka yang selama ini udah ngerawat, ngedidik, dan mengasihi? Hiks. Masih jauh banget untuk balas budi yang setimpal.

Fahrunnisa Laila mengatakan...

@aiman : terkadang orang tua gak mau dibales pake "materi" entah kenapa tiap kali mau di transferin uang pasti nolak, tp yg namanya anak pasti tetep ngasih walaupun ortu tetep sungkan. mereka cuma butuh kita jadi anak yg soleh dan solehan dan tetap mendoakan mereka :'''''
sayangilah ortu kitaa

Goandre Widodo mengatakan...

amazing story :)
kadang memang susah menjadi seorang yang pandai bersyukur, mata ini susah sekali untuk tidak mendongak ke atas. selalu ingin lebih kadang menjadikan seorang lupa, bahwa sudah berada di titik ini, kita sudah seharusnya bersyukur banget :)
Tulisan yang luar biasa runa :) keren. salam untuk adek yang dua biji nya :)

Fahrunnisa Laila mengatakan...

terimakasih telah membaca ceritaku kak, iya memang seharusnya berapapun rejeki kita harus tetap disyukuri, okay kak roger that, salam juga buat tetangga-tetangga mininya yg suka main ke rumah kakak :D

agen judi mengatakan...

Misi kk numpang share ya..!! jika ada yang berminat bisa langsung ke website kami
INFO AGEN JUDI ONLINE 988BET
AGEN JUDI ONLINE
AGEN JUDI
AGEN BOLA
PROMO BONUS 988BET
PREDIKSI BOLA

sherlina halim mengatakan...

Pengen yang lebih seru ...
Ayo kunjungi www.asianbet77.com
Buktikan sendiri ..

Real Play = Real Money

- Bonus Promo Red Card pertandingan manapun .
- Bonus Mixparlay .
- Bonus Tangkasnet setiap hari .
- New Produk Sabung Ayam ( minimal bet sangat ringan ) .
- Referal 5 + 1 % ( seumur hidup ) .
- Cash Back up to 10 % .
- Bonus Royalty Rewards setiap bulan .

Untuk Informasi lebih jelasnya silahkan hubungi CS kami :
- YM : op1_asianbet77@yahoo.com
- EMAIL : melasian77cs@gmail.com
- WHATSAPP : +63 905 213 7234
- WECHAT : asianbet_77
- SMS CENTER : +63 905 209 8162
- PIN BB : 2B4BB06A / 28339A41

Salam Admin ,
asianbet77.com

Download Disini

Posting Komentar

Haloo pembaca setia Cerita Runa, terimakasih atas waktunya telah membaca blog Runa. Buat yang pengen kasih masukan atau komentar, silahkan tulis di kolom komentar ini, dimohon memakai bahasa yang sopan yaa hehe.

Salam Cerita Runa :)

Fanpage Cerita Runa
×