Jumat, 31 Mei 2013

Ibuku, Wanita terhebatku

fotoku dan ibu, saat aku masih kecil
Bismillahirahmannirahim ..

Ibuku, wanita terhebatku ..

Ibuku adalah seorang wanita yang paling hebat dan istimewa di dunia, itu menurutku. Sembilan bulan ibuku mengandungku didalam perutnya. Mual, pegal, letih dan rasa sakit yang dideritanya tak membuat ibuku mengeluh. Ia selalu ikhlas menjalaninya, terlebih lagi ketika menerima anugerah dari tuhan berupa seorang buah hati yang pertama. Ya, aku adalah anak pertama. Artinya, waktu itu ibuku baru pertama kali mengandung dan pertama kali juga melahirkan. Terkadang aku membayangkan, Bagaimana raut muka ibuku saat melahirkanku? Bagaimana rasa sakitnya saat mengeluarkanku dari rahimnya? Bagaimana perasaan ibu saat pertama kali mendengar tangisanku pecah di dunia? Dan masih banyak pertanyaan lagi yang menghinggapiku hingga saat ini. 

Ibuku selalu merawatku dengan sepenuh hati, ia selalu memberikan makanan yang bergizi, sehingga aku bisa tumbuh sehat dan normal. Selain pandai dalam memberi keluarga kami nutrisi, ibuku juga seorang pekerja keras. Ia adalah seorang guru sekolah dasar, ia mengajar di sebuah sekolah kecil di daerah yang agak terpencil. Ibuku terkenal ramah dan disenangi oleh murid – muridnya serta semua guru disana. Ibuku benar – benar penyayang dan sabar, ia mengajar murid kelas 1 SD, kalian tahu sendiri kan? bagaimana repotnya mengurus anak kecil berumur sekitar 7 hingga 8 tahunan dengan jumlah yang tidak sedikit? tapi ibuku tidak pernah mengeluh dalam mendidik mereka. Terkadang ibu bercerita padaku, jika ingin menjadi guru memang harus sabar dan ikhlas. Dari situ aku belajar, bahwa keikhlasan dan kesabaran itu sangat penting dalam menjalani kehidupan. Ibuku mengajar SD dari pukul 7 pagi hingga 12 siang, kemudian pukul 2 ibuku bekerja kembali. Selain guru SD, ibuku juga guru mengaji di sebuah TPQ (Taman Pendidikan Qur’an), dari pukul 2 hingga pukul 4 ia mengajar beberapa murid untuk membaca Al-Quran. Ibuku dikenal baik oleh masyarakat, entah itu di lingkungan rumah, sekolah maupun lingkungan ia mengajar mengaji. 


Aktivitas ibuku tak henti sampai itu saja, selepas maghrib ibuku juga mengajar mengaji di rumah kami. Awalnya ibuku hanya coba – coba, ia mengajak anak – anak di kampung kami untuk belajar mengaji selepas maghrib. Akhirnya ada beberapa anak yang mengaji di rumah kami, mungkin waktu itu hanya 5 orang. Namun seiring berjalannya waktu, semakin banyak yang ingin mengaji dengan ibuku. Ibuku sangat senang melihat antusiasme mereka, setiap maghrib rumahku ramai dengan suara mungil mereka mengucapkan lafal Al-Quran. Ibuku tidak menarik biaya apapun, ia ikhlas berbagi ilmunya dengan mereka. Baginya, sangatlah percuma jika memiliki ilmu tapi tidak ditularkan kepada orang lain. Terkadang ibuku membeli jajanan anak - anak untuk dibagikan kepada mereka. Sempat aku bertanya kenapa ibuku seperti memanjakannya? Jawaban ibuku sederhana, ia bilang semua itu untuk sedekah walaupun tidak seberapa yang penting kita ikhlas memberinya dan agar anak – anak tambah rajin datang dan semangat untuk mengaji terus disini. 

Aku hitung – hitung, ibuku bekerja selama kurang lebih 10 jam dalam sehari, ditambah lagi dengan pekerjaan rumah dan lembur jika ada pekerjaan ekstra. Ibuku benar – benar kuat, ia jarang sekali sakit, aku bisa membayangkan betapa lelahnya bekerja selama itu setiap harinya. Tapi tak pernah aku melihat raut muka kelelahan di wajah ibuku yang cantik itu. Ibu lakukan semua itu untuk membiayai kuliahku dan menyekolahkan kedua adikku. Maka dari itu, aku selalu berusaha untuk tidak menyia-nyiakan kesempatanku untuk kuliah dan belajar dengan keras. Keluarga kami memang sederhana, tapi sesederhana hidup kami, ibu dan ayahku selalu punya tekad kuat agar aku dan kedua adikku tetap bisa mengenyam pendidikan setinggi – tingginya. 

Dari situ aku belajar, bahwa hidup itu tak hanya untuk harta, membagi ilmu secara cuma – cuma pun bisa berubah menjadi pahala yang tak terkira harganya. Tak selamanya kita hidup di dunia, harta dan kekayaan tidak akan kita bawa mati, karena amal ibadah, ilmu yang bermanfaat dan doa orang tualah yang akan kita bawa sampai akhirat.

Sudah puluhan tahun ibuku mengabdi di dunia pendidikan, Ia selalu bersemangat dan pantang menyerah dalam dunia tersebut. Ibuku ingin semua anak Indonesia bisa mengenyam pendidikan baik formal maupun nonformal, namun harus diimbangi juga dengan pendidikan agama. Pesan ibuku untuk seluruh anak Indonesia “semoga mereka bisa mengenyam pendidikan setinggi – tingginya, dan jangan pernah menyerah untuk mengejar cita-cita, serta jangan lupa berdoa pada tuhan” 

Banyak sekali hal – hal yang aku pelajari dari ibuku, tentang keikhlasan, kesabaran, kerja keras, semangat, pantang menyerah dan masih banyak lagi. Terimakasih ibu, kau telah mengajarkanku tentang kehidupan, terimakasih juga karena engkau telah merawatku hingga sekarang. Betapa mulia jasamu dan tak akan pernah aku lupakan hingga akhir hayat nanti. Engkau adalah harta karun dari tuhan yang sangat berharga bagiku, melebihi harta di seluruh jagat raya ini. Aku berjanji, suatu saat nanti aku akan menjadi orang yang sukses dan membalas budi baikmu dengan caraku sendiri. Karena aku tahu, harta di seluruh dunia ini tak akan pernah cukup untuk membalas budi baikmu, ketulusanmu dan kasih sayangmu selama ini. 

Dengan segala kerendahan hatiku, aku persembahkan tulisan sederhana ini hanya untukmu ibu, wanita istimewaku..

Aku sayang ibu..


4 Comments
Komentar

4 comments:

Khakim Assidiqi NH mengatakan...

Blognya keren,, folback ya :D
http://kim-greendaze.blogspot.com/

Fadhli Zaky mengatakan...

Jarang-jarang loh ada yang nulis tentang "ibu"nya di blog. Nice post :) Hidup bukan cuma soal uang kan ? Tapi juga soal ilmu dan kasih sayang.

wisnu murti mengatakan...

Subhanallah :)

Efnu mubarok mengatakan...

Aku lebih dekat sama Ibu dibanding sama Bapak :)
Cara Ibu menasehati anaknya beda, lebih halus.

Posting Komentar

Haloo pembaca setia Cerita Runa, terimakasih atas waktunya telah membaca blog Runa. Buat yang pengen kasih masukan atau komentar, silahkan tulis di kolom komentar ini, dimohon memakai bahasa yang sopan yaa hehe.

Salam Cerita Runa :)

Fanpage Cerita Runa
×