Sabtu, 23 November 2013

Aku Hanya Ingin Memelukmu, Ibu

ibuku, cahaya hidupku
Aku hanya ingin memeluk ibuku..

Terkadang di saat keresahan tiba-tiba mendatangiku, aku hanya ingin memeluk ibuku. Tapi aku tak terbiasa bercerita dengannya, aku tak terbiasa berkeluh kesah dihadapannya. Alasannya satu, aku tak ingin ibuku ikut merasakan perih yang aku rasakan. Misalnya saja, waktu itu aku sangat terpukul, terpukul sekali setelah kehilangan orang yang sangat berarti dihidupku selain ayah ibuku, aku ingin bercerita kepada ibuku, tapi sekali lagi.. aku benar-benar tidak bisa.


Aku hanya ingin memeluk ibuku..
Ibu, Mengapa aku benar-benar rapuh? Aku tak bisa bertahan terlalu lama dengan apa yang aku rasakan. aku mencoba untuk menghibur diriku sendiri, begitu pula teman – temanku yang selalu bersedia menyempatkan waktunya untuk membuatku tersenyum lagi. Tapi kenapa masih saja ada yang mengganjal?

Ibu, Aku sudah menemukan penggantinya, aku sangat menyayanginya. Tapi sekali lagi.. kali ini aku gagal untuk kesekian kalinya. Aku gagal mempertahankannya, aku gagal membuatnya bahagia saat bersamaku. 

Ibu, Apakah aku tidak pantas untuk orang yang aku sayangi? Apakah aku tak pantas berbahagia dengannya? Bagaimana kalau ternyata hanya dia yang bisa membuatku bahagia? Apakah aku harus pergi dan menemukan yang lain (lagi) ? Aku sudah lelah, aku lelah menemukannya, bu. Aku hanya ingin satu orang, satu orang untuk selamanya, seterusnya.

Terkadang di saat rasa sakit itu menghinggapiku lagi, aku pergi menemui ibuku dan tiba-tiba memeluknya. Hanya memeluknya (saja) tak menceritakan apa-apa, dan tak memperlihatkan rasa sakit di wajahku. Aku hanya memeluknya dan tersenyum sembari bertanya pada ibu :

“Ibu, apa kabar hari ini?”

Kemudian setelah itu, aku mencium tangannya dan kembali ke tempat persembunyianku untuk berkeluh kesah. Dengan siapa? Sudah pasti kau tahu jawabannya. Aku berkeluh kesah seorang diri di tempat persembunyian itu. Sesekali aku menitikkan air mata karena sudah tak tertahankan lagi. Terkadang jika suatu malam gundah itu kembali datang, aku mengambil air wudhu, menggelar sajadah merahku dan salat. Itu cara lain untuk berkeluh kesah, kali ini aku berkeluh kesah dengan penciptaku.

Saat itu pula, air mataku mengalir begitu deras. Semua hal yang mengganjal aku ceritakan dengannya, tentang kehidupan, tentang rasa sakit, tentang cinta, dan tentang semua yang menjadikanku rapuh. Dan setelah aku berkeluh kesah dengan penciptaku itu, aku kembali tidur dan berharap ketika bangun nanti, aku sudah baik-baik saja.

Ibu, Maaf aku tak pernah bercerita tentang semua yang selalu mengganjal di diriku, aku ingin ibu baik-baik saja, tak terlalu memikirkanku, dan tak perlu ikut bersedih saat aku mengalami hal yang perih. Yang aku inginkan hanya memelukmu, Ibu. 

Itu saja sudah sangat cukup bagiku..

Ibu, Aku sangat sangat sangat ingin memelukmu, selamanya..

Selasa, 05 November 2013

Masih Maukah Kalian 'meminta' ? Hei, Pengemis.


Haloo guys, jumpa lagi nih sama cerita runa yang ceritanya agak ngawur tapi kadang sesuai fakta haha. Kali ini aku mau bahas soal pengemis, baru – baru ini lagi nge-hits banget tuh berita tentang pengemis yang pendapatan sebulannya bisa mencapai 9-jutaan. Sungguh angka yang sangat fantastis dan miris. kenapa? Banyak orang yang bekerja keras tapi gajinya gak sebanyak itu loh, miris. Betewe aku yo gelem haha eh tapi aku masih punya akal sehat ding. mosok runa ngemis? 

Yuuk kita bahas bareng – bareng soal pengemis jaman cekayang (baca=sekarang)

Pengemis, mungkin kalian udah gak asing banget ya liat pengemis, di pasar, di masjid, di hatimu(?) dan lain sebagainya. Kadang kita sering liat juga pengemis yang menggunakan kekurangan fisiknya agar para pengguna jalan merasa iba, termasuk aku sendiri, orangnya gampang banget kasian sama orang apalagi pengemis gitu. Tapi ada yang cacat beneran ada juga yang pura-pura, buat orang – orang yang gak peduli itu palsu apa enggak, mungkin bakal langsung ngasih kali yaa. Selain dengan cara cacat-cacatan (pura-pura cacat) ada juga yang pake cara nggendong bayi, entah itu bayi-bayinan apa bayi beneran, kok bahasaku aneh ya? :(. Mungkin kasus yang kaya gini udah gak asing lagi, banyak trik deh pokoknya biar mereka dapet penghasilan lebih. Minat? PM mereka aja gan. muahhaa

Yang gak habis pikir itu, kenapa mereka harus mengemis? Apakah tidak ada pekerjaan yang lebih baik lagi? Aku pernah baca hadist, intinya “tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah” jadi, buat apa sih kita harus “minta” kalo sebenernya kita bisa dapetin apa yang kita mau dengan berusaha dan tanpa harus meminta dari orang lain. Minta sama Allah aja (berdoa). Apalagi yang fisiknya masih sehat – sehat gitu, maneman banget kalo kerjaannya Cuma buat “ngemis”. Bukan maksud apa – apa, tapi jaman sekarang, banyak banget yang nganggep pengemis itu “pemalas” ya emang gitu sih kenyataannya. Kalo kalian males belajar, berarti kalian pengemis ilmu #lhaiske, trus kalo kalian males memperjuangkan cinta, berarti kalian adalah pengemis cinta #lhaiske (Tolong di “iya” in aja biar seneng. Iyaa )

Fanpage Cerita Runa
×